Berubah, memang tidak semudah membalikan telapak tangan, tapi perubahan takkan terjadi jika kita tidak memulainya. Setelah beberapa lama aku terjebak dalam sebuah rutinitas dan kebiasaan yg kurang baik, aku ingin merubahnya. Merokok, telah menjadi kebiasaanku selama hampir 6 tahun, more or less. Aku tau nama rokok sejak aku TK, aku masih ingat, bermain peran meniru gaya orang merokok dengan gulungan kertas origami, sungguh merasa seperti orang hebat saja kala itu, meskipun aku tak tau pasti apa enaknya rokok kala itu. Kemudian ketika aku SD, entah kelas berapa, aku menemukan penjual mainan di depan gerbang sekolahku menjual permen berbentuk seperti rokok, silinder sepanjang 6-7 cm, berwarna putih, berasa manis, seharga 500 rupiah, yg memaksaku membuat kesimpulan, orang-orang merokok karena rasanya manis. LOL. kemudian aku masih sangat ingat dengan jelas, sebuah peristiwa dimana aku menghisap rokokku untuk pertama kali, di depan sebuah game centre di dekat terminal bus, aku bersama dua orang temanku nekat membeli sebatang rokok seharga 750 rupiah, setelah mengibuli pedagang dengan alasan disuruh Paman LOL! ternyata baru aku sadari bahwa, rokok itu semacam dupa, menyala diujungnya, mengeluarkan asap pekat berwarna putih, berbau tak sedap, membuat kepala pusing tapi menimbulkan rasa nikmat luarbiasa. Cukup sekali itu, dan tidak lagi. Aku sudah cukup puas tau rasanya merokok, dan aku juga dihantui rasa bersalah, rasa takut , takut kalo ketahuan bapak. Oh ya, sedikit cerita tentang Bapakku, beliau adalah pribadi yg cukup tertutup, setahuku waktu itu, beliau tidak pernah merokok, sekali merokok karena ada tamu jauh atau teman dekatnya yg menawari, sekedar sebatang untuk menghormati saja katanya, dan tetap begitu sampai sekarang. Sampai pada masaku memasuki jenjang SMP, aku mulai mengenal teman-teman baru, dengan tingkah polah bermacam-macam, dan salah satunya merokok. Pada mulanya aku merokok hanya sekadar ikut-ikutan, sungkan, tak enak dengan teman, tak ada maksud lain untuk gaya-gayaan atau apalah, dan kemudian dari status perokok pasif, aku berubah menjadi perokok aktif. aku sembunyi-sembunyi melakukan aksiku ini, tetapi sepandai-pandainya tupai meloncat, pasti akan terjatuh juga, dan benar saja, beberapa bulan kemudian aku ketahuan oleh tetanggaku, dan dilaporkan pada Ibuku. Sungguh mati, aku dimarah dicaci habis-habisan, dan aku diultimatum, uang saku sekolahku tidak akan cair kalau aku masih tetap merokok. Tapi entah karena setan apa, aku cuek saja, bahkan makin menjadi-jadi. Aku tetap merokok, tidak menghiraukan nasihat orangtuaku, sampai dua tahun lebih berlalu. Kemudian aku mulai menyadari, bahwa merokok ini sedikit mengganggu otakku, dan beberapa bulan menjelang UN SMP aku berhenti merokok, focus diri pada ujian yg akan aku hadapi. Tetapi setelah ujian selesai, selang beberapa minggu kemudian aku terjerat lagi oleh godaan rokok. Sampai pada akhirnya aku menjadi perokok aktif, lagi. Meskipun saat itu, hampir 3 tahun merokok, aku melakukannya sembunyi-sembunyi, aku tidak yakin bapak-ibuku tidak tahu, tapi aku cuek saja, selama aku bisa menyalurkan hasrat merokokku secara bebas, aku tidak ambil pusing. Ketika masuk bangku SMA aku semakin menjadi-jadi, sampai aku ketahuan merokok oleh ibuku, dan benar saja, uang saku sekolahku tidak cair selama seminggu, tapi itu tidak membuat aku jera, aku mengemis kepada teman, meminta, bahkan menukar apa yg aku punya dengan rokok. Rokok semacam menjadi bagian dari hidupku, mengisi hari-hariku. kumulai aktifitas pagiku dengan rokok, dan mengakhiri kelana malam dengan rokok. cukup banyak kenanganku, baik maupun buruk, juga banyak yg disaksikan oleh rokok. tentang pahitmanisnya cinta, sukaduka sekolah, atau lunakkerasnya hidup. beragam merk dan rasa, dari rokok murahan dengan merk "tingwe" alias linting dewe dengan rasa pahit keras khasnya, mild yg manis menggoda, menthol yg dingin dan membekukan suasana, hingga cerutu premium yg luarbiasa. namun pada akhirnya aku menyadari, tentang bahaya rokok yg menghantui. dan sekarang, setelah menimbang, mengkaji dan kalkulasi, aku memutuskan untuk berhenti. alasannya? aku sudah cukup memenuhi tubuhku dengan racun, membuang uangku demi kenikmatan dunia yg sementara, dan karena aku sadar, tersadarkan secara tidak sengaja, oleh buku sederhana, dan kata-kata orang tua, aku telah banyak membuang waktuku untuk hal yg sia-sia :)
Search
Disclaimer
(( under construction ))


